rel="stylesheet"> rel="stylesheet"> KMK UNTAN: Maret 2017

Selasa, 07 Maret 2017

Mengingat Tuhan Dalam Keseharian Kita


Kita semua memang harus berjuang setiap hari agar tidak ‘lupa’ akan Tuhan. Sebab walaupun mulut kita sering mengucapkan kita mengasihi Tuhan, namun di dalam perbuatan, sering kita gagal mewujudkannya. Contoh yang sederhana ialah di dalam keseharian kita sering ‘lupa’ kepada-Nya, atau tepatnya lebih banyak memperhatikan diri sendiri dan kehendak sendiri daripada Tuhan dan kehendak-Nya. Singkatnya, kita cenderung lebih ‘cinta diri’ ketimbang ‘cinta Tuhan’.
Berikut ini adalah tips sederhana yang mungkin dapat diterapkan, yang pada dasarnya melibatkan Tuhan di dalam segala hal yang kita lakukan setiap hari, baik pada saat yang senang ataupun susah:
1) Usahakan bangun lebih pagi setiap hari, dan awali dengan ucapan syukur. Pajanglah gambar Yesus di kamar tidur, atau di dekat tempat tidur kita, sehingga begitu kita terjaga/ terbangun, Yesuslah yang kita ingat terlebih dahulu. Begitu kita mengingatNya, kita mengucap syukur, bahwa kita diberi karunia ‘hidup’ hari itu.
2) Jangan lupa, mohonlah di dalam doa pagi, “Tuhan, bantulah aku untuk lebih mengingat Engkau hari ini.”
3) Sediakanlah ‘pojok doa’/ tempat berdoa di rumah. Letakkanlah di situ Kitab suci, buku doa/ renungan, rosario dan salib Tuhan Yesus.
4) Sediakan waktu secara khusus untuk berdoa (pagi dan malam) dan merenungkan bacaan harian hari itu, misalnya 1/2 jam sehari. Jika dirasakan kurang dapat ditambahkan kemudian hingga 1 jam atau lebih. Carilah waktu yang paling baik, jangan mengambil waktu terlalu malam, supaya tidak ngantuk dan terburu-buru. Lakukan doa hening, doa Yesus, atau doa lain, seperti Ibadat harian/Liturgy of the Hour, atau doa rosario sambil merenungkan peristiwa-peristiwa kehidupan Yesus (Gembira, Terang, Sedih, Mulia), ataupun doa spontan.
5) Ambillah sepenggal ayat/ kata dari bacaan Kitab suci hari itu, dan ulangi dalam batin sepanjang hari. Seperti misalnya kita terkesan dengan kata, “menghasilkan buah yang baik” (Luk 6:43). Doakanlah terus, “Tuhan, bantu aku agar aku menghasilkan buah yang baik hari ini.”
6) Jika mengendarai mobil, pasanglah kaset/ CD rohani, entah berupa lagu-lagu, ataupun doa rosario, atau jika ada/ memungkinkan dengarkanlah siaran radio Katolik.
7) Temukanlah Tuhan dalam hal-hal yang biasa dan rutin. Untuk ini mari kita teliti, kegiatan apa yang paling mendominasi hari-hari kita: Misalnya, jika kita bekerja di kantor, begitu sampai di meja kerja, ucapkanlah syukur. Jika mengalami kesulitan dalam pekerjaan, ucapkanlah, “Tuhan, kasihanilah aku.” Jika mengalami pujian dan berkat, “Tuhan, terima kasih, Engkau sungguh ajaib.”
8) Temukanlah Tuhan dalam hal-hal yang sederhana bahkan dalam hal-hal yang membosankan, seperti ketika sedang membersihkan rumah/ mencuci piring, olah raga/ jogging, atau sedang menunggu sesuatu, berdoalah Salam Maria. Ingatlah akan orang-orang yang membutuhkan doa kita, dan doakanlah mereka bersama dengan Bunda Maria, “Bunda Maria, doakanlah ….(nama yang mau di doakan) di hadapan Yesus. Salam Maria….dst” atau berdoalah rosario.
9) Temukanlah Tuhan pada saat kita melakukan hal-hal yang tidak kita sukai atau yang membutuhkan pengorbanan kita. Katakanlah dalam hati, “…ini kulakukan demi kasihku kepada Yesus… ini bukan apa-apa jika dibandingkan dengan salib Kristus… mari, Yesus, bantulah aku memikul salibku ini…. semoga salib kecil ini nanti menghantarku / dan ….. (nama orang yang kudoakan) ke surga”.
10) Temukanlah Tuhan dalam orang-orang yang kita jumpai. Mulai dari suami/ istri/ orang tua/ anak-anak yang terdekat dengan kita (atau bagi para biarawan biarawati, temukanlah Tuhan dalam diri superior, atau sesama rekan biarawan/ biarawati). Mulailah hari dengan menyapa dan memberikan ungkapan kasih kepada mereka.
11) Temukanlah Tuhan dalam orang-orang yang datang kepada kita/ yang kita jumpai pada hari itu, misalnya: tamu asing, teman yang berkeluh kesah, orang yang minta tolong, atau bahkan orang yang membuat kita sedih/ kesal. Ingatlah bahwa apa yang kita lakukan pada mereka, kita lakukan terhadap Yesus.
12) Temukanlah Tuhan dalam berita dunia hari itu. Jika anda membaca koran/ mendengar berita TV, lihatlah apa yang terjadi di dunia sekitar kita, ucapkanlah syukur untuk segala berita baik, dan mohonlah pertolongan Tuhan jika ada bencana. Doakanlah mereka yang menderita, para pemimpin negara dan pemimpin Gereja.
13) Ingatlah untuk selalu berdoa mengucap syukur sebelum dan sesudah makan.
14) Jika kita mau berdisiplin, pasanglah alarm pada jam-jam tertentu untuk mengingatkan bahwa pada saat itu anda perlu berdoa singkat, misal setiap jam 12 siang/ jam 3 siang. Begitu sudah terbiasa, maka alarm itu tidak dibutuhkan lagi.
Doa- doa singkat ini dapat sangat sederhana, “Terpujilah Engkau, Tuhan”,atau “Jesus and Mother Mary, I love you, save sinners.” Atau jika mau lebih khusus, doakanlah anggota keluarga atau teman atau siapapun yang ingin kita doakan pada saat itu.
15) Pasanglah sticker/’post-it’ polos di tempat-tempat tertentu yang paling sering kita lihat. Pada saat kita melihatnya, ucapkanlah syukur kepada Tuhan. Jika sudah terbiasa, kita tidak memerlukan post-it lagi.
16) Usahakan mengikuti Misa Kudus, lebih dari sekali seminggu. Persiapkan hati sungguh-sungguh sebelum mengikuti misa, dan pada saat konsekrasi, mohonlah sekali lagi, “Tuhan, bantulah aku mengingat dan mengasihi Engkau.”
17) Sediakanlah waktu untuk bersekutu dengan saudara/saudari seiman, dan mendalami iman Katolik anda.
18) Periksalah batin sebelum tidur. Persembahkan kepada Tuhan, segala yang baik yang kita perbuat hari itu. Dan mohonlah ampun atas kegagalan kita untuk berbuat baik hari itu. Sediakan waktu hening di dalam Tuhan. Contoh doa malam, klik di sini.
19) Jika kita temukan dosa dalam pemeriksaan batin itu, kita secepatnya mengaku dosa dalam Sakramen Tobat, sedapat mungkin pada hari berikutnya, dan mohon agar Tuhan membantu kita agar tidak mengulangi dosa itu lagi.
20) Tutuplah hari dengan senyuman, “Yesus, aku bersyukur, terpujilah Engkau!”
Marilah kita berdoa, agar Tuhan memberikan kepada kita rahmat untuk senantiasa mengingat dan mengasihi-Nya. Mengingat akan Tuhan adalah bagian dari ‘doa’, dan oleh karena keinginan untuk berdoa itu sendiri adalah suatu rahmat (“…for the desire to pray is in itself a gift“), marilah kita bersyukur untuk rahmat ini, dan memohon agar Tuhan memampukan kita untuk menanggapi rahmat tersebut.

sumber : katolisitas.org

Rabu, 01 Maret 2017

Rabu Abu dalam Hidup Orang Katolik

sumber gambar : google.com

Makna Rabu Abu
Tepat pada hari rabu tanggal 1 Maret 2017, semua umat Katolik di penjuru dunia merayakan Rabu Abu. Peristiwa ini diperingati dengan menandai diri dengan abu yang diberikan oleh imam di Gereja masing-masing. Hal ini menandakan umat Katolik akan memasuki masa pantang dan puasa.
Lalu sebenarnya apa makna dari Rabu Abu tersebut dan mengapa orang Katolik menandai diri dengan abu setiap menjelang pra paska ?
Menurut Diakon Yonas yang saat ini bertugas di Samarinda, kata Abu itu sendiri muncul dari beberapa kali bersamaan dengan kata Debu. Debu adalah benda terkecil yang sifatnya tidak ada artinya, mengotori, tak berguna dan tak bermanfaat namun masih bisa dilihat. “Sementara Abu mengacu pada sisa-sisa benda-benda yang dibakar,” kata Diakon Yonas ketika di hubungi via messenger.
Ia menambahkan, mengacu pada kemusnahan sesuatu yang ada menjadi tiada, kesia-siaan, , dan tidak punya arti lagi. “Abraham ketika Ia berbicara dengan Tuhan, mengakui dirinya hanyalah debu dan abu (Kej. 18:27),” jelasnya.
Dalam Kitab Ayub (Ayb. 42 : 6) juga dikatakan, “Ayub bertibat dalam debu dan abu” . Dengan pengertian singkat ini, dapat ditarik makna mengenai penerimaan abu. Penerimaan di dahi kita melambangkan kita melihat siapa diri kita di hadapan Allah. Tuhanlah Allah, Raja atas diri kita, sementara kita bukanlah apa-apa, tidak berarti, seorang hamba sahaya, tetapi dikasihi olehNya.
Menjadi debu dan abu artinya kita meningalkan kedirian kita, dengan segala kesombongan, sifat egois, segala hal-hal yang merusak identitas kita sebagai anak-anak Allah, yang telah ditebus oleh Darah Putra Allah.
Kesadaran bahwa diri kita adalah debu membantu kita untuk melihat dan menilai orang lain. Kita semua berasal dari debu tanah dan akan kembali menjadi debu, maka tidak perlu ada yang disombongkan lagi. Tidak perlu seorangpun merasa lebih hebat dari orang lain lalu memandang rendah orang lain.

Alasan Orang Katolik selau Mengikuti Rabu Abu
Orang Katolik mengikuti penerimaan pengolesan Abu di dahi ini sebagai bentuk kerendahan hati bahwa semuanya memiliki dosa dan kelemahan serta ketidakpantasan berdiri di hadapan Allah yang membalas kasih. Dengan kesadaran ini maka setiap orang Katolik akan melihat bahwa penerimaan abu ini sebagai kesempatan yang baik untuk menyatakan diri sebagai orang yang berdosa, baik itu dihadapan Allah dan juga dihadapan sesama.
Namun bila ada orang Katolik tidak menerima pengolesan abu ini ada dua kemungkinan. Pertama, tidak adanya kesempatan untuk menerima abu dan saat hari Rabu Abu yang dikarenakan banyaknya tugas yang tidak mungkin ditinggalkan. Bisa jadi, sedang berjalan dalam perjalanan jauh dan banyaknya tugas yang tidak mungkin ditinggalkan. Bisa jadi sedang dalam perjalanan jauh dan lain sebagainya.
Kedua, mereka yang merasa bahwa tidak pernah melakukan dosa dan kesalahan maka apa gunanya menerima abu.
Ayat Kitab Suci Yang Mengharuskan mengikuti Rabu Abu
Dalam Ayub 42 : 6 berbunyi “Ayub bertobat dalam debu dan abu”. Nabi Yehezkiel menyerukan pertobatan kepada Israel dengan menaruh abu di atas kepala dan berguling dalam debu (Yeh. 27 : 30). Raja Niniwe setelah mendengar nubuat penghukuman yang disampaikan Yunus. Raja ini menyesal dan duduk diatas debu (Yun. 3 : 4).

Asal Usul Rabu Abu
Pengunaan abu dalam liturgi sudah berasal dari jaman Perjanjian Lama. Kemudian lagi bahwa Abu melambangkan sebagai perkabungan, ketidakabadian dan sesal/tobat. Hari Rabu sebagai awal mulainya penerimaan abu terhitung sebagai awal untuk masa puasa dan pantang selama 40 ahri sebelum masa paskah ( pengecualian hari Minggu tidak masuk dalam masa pertobatan ).
Puasa selama empat puluh hari ini mengacu pada puasa Musa selama 40 ahri di Gunung Sinai. Dan juga Yesus berpuasa selama empat puluh hari sebelum memulai karyaNya ditengah publik.

Pesan Diakon Yonas untuk Umat Katolik memasuko Prapaskah
Untuk umat Katolik yang akan memasuki pra paskah, kesempatan yang baik untuk melihat kembali perjalanan hidup yang lalu. Tidak ada tindakan, baik sikap dan perbuatan itu lepas dari kesalahan dan kelemahan. Menusia begitu istimewa karena diberi anugerah oleh Allah untuk melihat kembali perjalanan masa lalu dan memperbaiki yang kurang dan rusak oleh perbuatan itu. Maka selama masa Prapaskah ini kita semua diajak untuk melakukan pertobatan silih untuk memperbaiki sikap kita, baik dihadapan Allah dan semua. Pergunakan waktu yang berahmat ini dengan sebaik-baiknya demi mencapai tujuan hidup yang sempurna.

Untuk semua umat Katolik selamat menjalankan pantang dan puasa dan semoga dalam prapaskah kali ini kita semakin baik dan bisa bertobat serta selalu setia kepada Tuhan Yesus.

Oleh : Isa Oktaviani (HKI/KMK Untan)